Dampak Pencemaran Lingkungan (sampah) di Sekitar Perumahan Pabrik Kertas Gowa
Dampak Pencemaran
Lingkungan (sampah) di Sekitar
Perumahan Pabrik Kertas Gowa
1. Latar Belakang
Menurut
Kamus istilah lingkungan,1994 “Sampah adalah bahan yang tidak mempunyai nilai,
tidak berharga dalam pembikinan, pemakaian barang rusak, bercacat dalam
pembikinan manufaktur, materi berkelebihan, atau buangan”. Sampah merupakan konsekuensi dari adanya
aktifitas manusia. Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan sampah. Jumlah
atau volume sampah sebanding dengan tingkat konsumsi kita terhadap
barang/material yang kita gunakan sehari-hari.
Sampah
sampai saat ini selalu menjadi masalah, sampah dianggap sebagai sesuatu yang
kotor dan harus dibuang. Bila dibuang sembarangan akan menjadi sumber
pencemaran lingkungan dan sumber penyakit bagi manusia; bahkan bila dibuang
pada tempatnya pun bukan berarti masalah terselesaikan, karena timbul
permasalahan baru berupa tempat pembuangan akhir. Oleh karena itu, persepsi
tentang sampah harus berubah; dari yang harus dibuang menjadi sesuatu yang
dapat dimanfaatkan. Demikian juga dengan jenis sampah, sangat bergantung dari
jenis material yang kita konsumsi. Oleh karena itu pegelolaan sampah tidak bisa
lepas juga dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyrakat.
Lingkungan yang sehat, bersih dan indah
merupakan dambaan setiap orang; tetapi
untuk
mewujudkannya diperlukan pemahaman dan komitmen dalam bertindak. Keinginan
untuk
mencapainya sangat sering dikumandangkan; baik oleh kelompok masyarakat
maupun
oleh lembaga pemerintah; tetapi seringkali hanya sebatas slogan belaka tanpa
diiringi
oleh upaya serius. Berbagai langkah telah diupayakan oleh pemerintah, tetapi
tanpa
dukungan secara sadar oleh anggota masyarakat, lingkungan yang sehat tidak akan
pernah
dapat terwujud; karena upaya ini harus dilakukan secara bersama-sama. Kesan
bahwa
masyarakat tidak perduli terhadap lingkungan, tercermin dari keadaan lingkungan
yang dari waktu ke waktu memperlihatkan penurunan kualitas.
Sekarang pertanyaannya bagaimana untuk
menyelesaikan masalah sampah ini. Dan hal inilah yang melatar belakangi saya
menulis makalah bertemakan Masalah Pencemaran Lingkungan ( Sampah ). Untuk
menjawab hal ini saya melakukan studi kasus di sekitar kampus
teknik gowa (Perumahan PKG). Alasan kami
mengambil tempat di wilayah tersebut karena di daerah ini juga terlihat
adanya sampah yang bertebaran dimana-mana dan banyak sekali sampah yang
menumpuk di pinggir jalan dan juga hampir tidak terdapat tempat sampah
umum.Dari sini saya ingin melihat lebih
dalam mengenai permasalahan sampah di sekitar kampus teknik Gowa (Perumahan
PKG) ini.
2.
Identifikasi
Masalah
Berkaitan
dengan latar belakang diatas, masalah-masalah dalam penelitian dapat diidentifikasi
sebagai berikut .
a. Jenis
Pencemaran lingkungan (sampah) di Sekitar Perumahan PKG
b. Penyebab
Pencemaran Lingungan (sampah) di Sekitar Perumahan PKG
c. Dampak
Pencemaran lingkungan (sampah)dalam berbagai bidang di sekitar Perumahan PKG
d. Penanggulangan
Pencemaran lingkungan (sampah)
e. Model
sistem pengelolaan terhadap pencemaran lingkungan (sampah) disekitar Perumahan
PKG
3.
Batasan
Masalah
Berkaitan
dengan latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas maka masalah yang
mencakup penelitian ini terlalu luas, sehingga memerlukan waktu dan biaya yang
cukup. Untuk itu, masalah-masalah tersebut dibatasi ruang lungkupnya sebagai
berikut.
a. Jenis
Pencemaran lingkungan (sampah) di Sekitar Perumahan PKG
b. Dampak
Pencemaran lingkungan (sampah)dalam berbagai bidang di sekitar Perumahan PKG
c. Penanggulangan
Pencemaran lingkungan (sampah) di sekitar Perumahan PKG
4.
Rumusan
masalah
Berkaitan
dengan latar belakang masalah, identifikasi masalah, dan batasan masalah maka
masalah tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut.
a. Apa saja jenis pencemaran lingkungan
(sampah) di sekitar perumahan PKG ?
b. Apa saja dampak pencemaran
lingkunfan (sampah) di sekitar perumahan PKG ?
c. Bagaimana penanggulangan pencemaran
lingkungan (sampah) di sekitar PKG ?
5.
Tujuan
Masalah
Berkaitan
dengan rumusan masalah diatas, maka perlu dirumuskan rumusan tujuan sebagai
berikut.
a.
Mengetahui
apa saja jenis pencamaran lingkungan (sampah) di sekitar perumahan PKG
b.
Mengetahui
dampak dari pencemaran lingkungan (sampah)
di sekitar perumahan PKG
c.
Mengetahui
penanggulangan pencemaran lingkungan
(sampah) disekitar PKG
6.
Kajian
Pustaka
Lingkungan
yang sehat, bersih dan indah merupakan dambaan setiap orang; tetapi
untuk
mewujudkannya diperlukan pemahaman dan komitmen dalam bertindak. Keinginan untuk
mencapainya sangat sering dikumandangkan; baik oleh kelompok masyarakat maupun
oleh lembaga pemerintah; tetapi seringkali hanya sebatas slogan belaka tanpa diiringi
oleh upaya serius. Berbagai langkah telah diupayakan oleh pemerintah, tetapi tanpa
dukungan secara sadar oleh anggota masyarakat, lingkungan yang sehat tidak akan
pernah dapat terwujud; karena upaya ini harus dilakukan secara bersama-sama.
Kesan bahwa masyarakat tidak perduli terhadap lingkungan, tercermin dari
keadaan lingkungan yang dari waktu ke waktu memperlihatkan penurunan kualitas.
Kondisi seperti ini terjadi karena lingkungan dicemari oleh berbagai bahaya buangan
(sampah/limbah), baik limbah rumah tangga maupun limbah industri.
“Sampah
(refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai, tidak
disenangi atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan
yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri), tetapi bukan biologis
(karena human waste tidak termasuk didalamnya) dan umumnya
bersifat padat. Sumber sampah bisa bermacam-macam, diantaranya adalah : dari
rumah tangga, pasar, warung, kantor, bangunan umum, industri, dan jalan”
(Azwar, 1990).
Faktor
yang mempengaruhi jumlah sampah selain aktivitas penduduk antara lain adalah:
jumlah atau kepadatan penduduk, sistem pengelolaan sampah, keadaan geografi,
musim dan waktu, kebiasaan penduduk, teknologi serta tingkat sosial ekonomi. Misalnya saja,
kota Jakarta pada tahun 1985 menghasilkan sampah sejumlah 18.500 m3 per hari
dan pada tahun 2000 meningkat menjadi 25.700 m3 per hari. Jika dihitung dalam
setahun, maka volume sampah tahun 2000 mencapai 170 kali besar Candi Borobudur (Depkes
RI., 1987).
Berdasarkan
komposisi kimianya, maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah
anorganik. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80%
merupakan sampah organik, dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat
digunakan kembali[1].
“sampah
organik di bedakan menjadi sampah organik yang mudah membusuk (misal: sisa
makanan, sampah sayuran dan kulit buah) dan s ampah organic yang tidak mudah
membusuk (misal : plastik dan kertas)” Murtadho dan Said (1987),
Kegiatan atau aktivitas pembuangan sampah merupakan
kegiatan yang tanpa akhir. Oleh karena itu diperlukan sistem pengelolaan sampah
yang baik. Sementara itu, penanganan sampah mengalami kesulitan dalam hal
pengumpulan sampah dan upaya mendapatkan tempat atau lahan yang benar-benar
aman[2].
Maka pengelolaan sampah dapat dilakukan secara preventive, yaitu
memanfaatkan sampah salah satunya seperti usaha pengomposan[3].
Secara
umum orang beranggapan bahwa sampah adalah sesuatu barang atau benda yang sudah
tidak berguna bagi dirinya. Sampah merupakan sesuatu yang kotor, bau, jelek;
tidak berguna lagi sehingga secepatnya harus disingkirkan dan dibuang. Persepsi
tentang sampah sebagai sesuatu yang tidak berguna, diperkuat oleh pernyataan
“buanglah sampah pada tempatnya” yang mengisaratkan bahwa sampah memang harus
dibuang; tidak diajurkan untuk dimanfaatkan. Sudah menjadi kebiasaan bagi
manusia (masyarakat) untuk membuang sampah; apalagi anggota masyarakat telah
dibebani untuk membayar retribusi, sehingga dianggap bahwa sampah adalah urusan
pemerintah. Bahkan perilaku membuang sampah menjadi
tidak terkontrol; masih banyak
anggota masyarakat yang membuang sampah secara embarangan, tidak pada tempat
yang telah disediakan.
Beberapa
jenis-jenis sampah di sekitar Perumahan PKG terbagi menjadi 3 yaitu berdasarkan
sumbernya, sifatnya, dan bentuknya. Adapun pengklsifikasiannya : (Wikipedia)
1. Berdasarkan sumbernya
Sampah alam
Sampah yang diproduksi di
kehidupan liar diintegrasikan melalui proses daur ulang alami, seperti halnya daun-daun kering di hutan yang terurai menjadi tanah. Di luar kehidupan liar, sampah-sampah ini dapat menjadi masalah,
misalnya daun-daun kering di lingkungan pemukiman.
Sampah manusia
Sampah manusia (Inggris: human waste) adalah istilah yang
biasa digunakan terhadap hasil-hasil pencernaan manusia, seperti feses dan urin. Sampah manusia dapat menjadi bahaya serius bagi kesehatan karena dapat
digunakan sebagai vektor (sarana perkembangan) penyakit yang
disebabkan virus dan bakteri. Salah satu perkembangan utama pada
dialektika manusia adalah pengurangan penularan penyakit melalui sampah manusia
dengan cara hidup yang higienis dan sanitasi. Termasuk didalamnya adalah
perkembangan teori penyaluran pipa (plumbing).
Sampah manusia dapat dikurangi dan dipakai ulang misalnya melalui sistem
urinoir tanpa air.
Sampah Konsumsi
Sampah konsumsi merupakan
sampah yang dihasilkan oleh (manusia) pengguna barang, dengan kata lain adalah
sampah-sampah yang dibuang ke tempat sampah. Ini adalah sampah yang umum
dipikirkan manusia.
Sampah kontruksi
Sampah kontruksi merupakan sampah hasil dari aktivitas kontruksi,
remoldeling, rehabilitas sdan pemeliharaan bangunan kontruksi. Biasanya sampah
jenis ini lebih berupa bebatuan, beton, batu bata, batako, kayu pelster, papan
triplek, plumbing, genteng, enternity, sisa bagian dari kabel, pipa dan
sebagainya.
2.
Berdasarkan
sifatnya
1. Sampah organik.
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari
bahan-bahan hayati yang dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat
biodegradable. Sampah ini dengan mudah diuraikan dalam proses alami. Sampah
rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik,
misalnya sampah dari dapur, sisa-sisa makanan, pembungkus (selain ketas, karet
dan plastik), tepung, sayuran, kulit buah, daun dan ranting.
2. Sampah Anorganik (non-organik).
Sampah anorganik yakni sampah yang dihasilkan dari
bahan-bahan non hayati, baik sebagai produk sintetik maupun hasil pengolahan
teknologi bahan tambang, hasil olahan baan hayati dan sebagainya.
3. Berdasarkan
bentuknya
Sampah adalah bahan baik
padat atau cairan yang tidak dipergunakan lagi dan dibuang. Menurut bentuknya
sampah dapat dibagi sebagai:
Sampah Padat
Sampah padat adalah segala
bahan buangan selain kotoran manusia, urine dan sampah cair. Dapat berupa
sampah rumah tangga: sampah dapur, sampah kebun, plastik, metal, gelas dan
lain-lain. Menurut bahannya sampah ini dikelompokkan menjadi sampah organik dan
sampah anorganik. Sampah organik Merupakan sampah yang berasal dari barang yang
mengandung bahan-bahan organik, seperti sisa-sisa sayuran, hewan, kertas,
potongan-potongan kayu dari peralatan rumah tangga, potongan-potongan ranting,
rumput pada waktu pembersihan kebun dan sebagainya.
Berdasarkan kemampuan
diurai oleh alam (biodegradability), maka dapat dibagi lagi menjadi:
- Biodegradable: yaitu sampah yang dapat
diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob, seperti:
sampah dapur, sisa-sisa hewan, sampah pertanian dan perkebunan.
- Non-biodegradable: yaitu sampah yang tidak
bisa diuraikan oleh proses biologi.
- Recyclable: sampah yang dapat diolah dan
digunakan kembali karena memiliki nilai secara ekonomi seperti plastik, kertas,
pakaian dan lain-lain.
- Non-recyclable: sampah yang tidak memiliki
nilai ekonomi dan tidak dapat diolah atau diubah kembali seperti tetra packs,
carbon paper, thermo coal dan lain-lain.
Sampah Cair
Sampah cair adalah bahan
cairan yang telah digunakan dan tidak diperlukan kembali dan dibuang ke tempat
pembuangan sampah.
- Limbah hitam: sampah cair yang dihasilkan dari toilet.
Sampah ini mengandung patogen yang berbahaya.
- Limbah rumah tangga: sampah cair yang dihasilkan dari dapur,
kamar mandi dan tempat cucian. Sampah ini mungkin mengandung patogen.
Adapun beberapa
klasifikasi sampah yaitu: (Penebar Swadaya,2008 hlm 8)
Human erecta
Human erecta merupakan istilah bagi bahan buangan
yang dikeluarkan oleh tubuh manusiansebagai pencernaan. Tinja (faces) dan air
seni (urin) adalah hasilnya. Sampah manusia ini dapat berbahaya karena bisa
menjadi vector penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus.
Sewage
Air limbah buangan rumah tangga maupun pabrik
termasuk sewage. Limbah cair rumah tangga umumnya dialirkan kegot tanpa proses
penyaringan, seperti sisa air mendi, bekas cucian, dan limbah dapur. Sementara itu,
limbah pabrik perlu diolah secara khusus sebelum dilepas ke alam agar lebih
aman. Namun, tidak jarang limbah berbahaya ini disalurkan ke sungai atau laut
tanpa penyaringan.
Refuse
Refuse diartikan sebgaai bahan sisa proses atau
hasil sampingan kegiatan rumah tangga. Refuse inilah yang populer disebut
disebut sampah dalam pengertian masyarakat sehari-hari. Sampah ini
dibagimenjadi garbage (sampah lapuk) dan rubbish (sampah tidak lapuk dan tidak
mudah lapuk) sampah lapuk adalah sampah sisa-sisa pengolahan sampah rumah
tangga atau hasil simpangan kegiatan pasar bahan makanan, sepeti sayur-sayuran.
Sementara itu sampah tidak lapuk merupakan jenis sampah yang tidak bisa lapuk
sama sekali, seperti mika, kaca, dan plastik. Sampah tidak mudah lapuk
merupakan sampah yang sangat sukit terurai tetapi bisahancur secera alami
dalalm jangka waktu lama. Sampah jenis ini ada yang dapat terbakar (kertas dan
kayu) dan tidak terbakar (kaleng dan kawat)
Ditinjau dari sudut
kesehatan lingkungan, kedua kjenis kotoran manusia tersebut dapat menjadi
masalah yang sangat penting. Pembuangan tinjas secara layak meupakan kebutuhan
kesehatan yang paling diutamakan. Pembuangan tinja secara tidak baik dan
sembarang dapat mengakibatkan kontaminasi pada air, tanah, atau menjadi sumber infeksi
dan akan mendatangkan bahaya bagi kesehatan karena penyakit yang tergolong
waterborne disease akan mudah berjangkit. Di negara berkembang, masih banyak
terjadi pembuangan tinjas secara sembarangan akibat tingkat social ekonomi yang
rendah, pengetahuan di bidang kesehatan lingkungan yang kurang, dan kebiasaan
buruk dalam pembuangan tinjas yang diturunkan dari generasi ke generasi. Kodisi
tersebut terutana ditemukan pada masyarakat di pedesaan dan di daerah kumuh
perkotaan. Bahaya terhadapa kesehatan yang dapat ditimbulkan akibat pembuanan
kotoran secara tidak baik adalah pencemaran tanah, air, kontaminasi makanan,
dan perkembang biakan lalat. Sementara itu, penyakit-penyakit yang dapay
terjadi akibat keadaan di atas antara lain tifoid, paratifoid, disentri, diare,
kolera, penyakit cacing, hepatitis viral, dan beberapa penyakit infeksi
lainnya. Penyakit tersebut bukan saja menjadi beban pada komunitas (dilihat
dari angka kesakitan, kematian, dan harapan hidup) tetapi juga menjadi penghalang
bagi tercapainya kemajuan di bidang social dan ekonomi. Pembuangan kotoran
manusia yang baik merupakan hal yang mendasar bagi keserasian lingkungan. Dalam
sehari, orang Asia rata-rata mengeluarkan 200-400 gram tinja, sedangkan orang
Eropa mengeluarkan 100-500 gram tinja. Di daerah tropis pengeluaran tinja
berkisar antara 280-530 gram/0rang/hari dan urin berkisar antara 600-1.130
gram/orang/hari[4].
Sampah
dapat berada pada setiap fase materi: padat, cair, atau gas. Ketika dilepaskan dalam dua fase yang disebutkan terakhir, terutama
gas, sampah dapat dikatakan sebagai emisi. Emisi biasa dikaitkan dengan polusi. Sampah dari berbagai sumber dapat mencemari lingkungan,
baik lingkungan darat, udara maupun perairan. Adapun beberapa dampak dari
pencemaran lingkungan (sampah) yaitu : (Imran,2005.hlm 21-25)
Dampak di
bidang kesehatan
Sampah sebagai tempat bersarang dan
menyebarnya bibit penyakit, sedangkan ditinjau dari segi keindahan, tentu saja
menurunnya estetika (tidak sedap dipandang mata). Macam pencemaran udara yang
ditimbulkannya misalnya mengeluarkan bau yang tidak sedap, debu gas-gas
beracun. Pembakaran sampah dapat meningkatkan karbonmonoksida (CO),
karbondioksida (CO2) nitrogen-monoksida (NO), gas belerang, amoniak
dan asap di udara. Asap di udara, asap yang ditimbulkan dari bahan plastik ada
yang bersifat karsinogen, artinya dapat menimbulkan kanker, berhati-hatilah
dalam membakar sampah. Tempat-tempat penumpukan sampah merupakan lingkungan
yang baik bagi hewan penyebar penyakit penyakit misalnya : lalat, nyamuk,
tikus, dan bakteri patogen (penyebab penyakit). Adanya hewan-hewan penyebar
penyakit tersebut mudah tersebar dan menajalar ke lingkungan sekitar.
Penyakit-penyakit itu misalnya kolera, disentri, tipus, diare, dan malaria.
Dampak
terhadap Air
Macam pencemaran perairan yang
ditimbulkan oleh sampah misalnya terjadinya perubahan warna dan bau pada air
sungai, penyebaran bahan kimia dan mikroorganisme yang terbawa air hujan dan
meresapnya bahan-bahan berbahaya sehingga mencemari sumur dan sumber air.
Bahan-bahan pencemar yang masuk kedalam air tanah dapat muncul ke permukaan
tanah melalui air sumur penduduk dan mata air. Jika bahan pencemar itu berupa
B3 (bahan berbahaya dan beracun) mislnya air raksa (merkuri), chrom, timbale,
cadmium, maka akan berbahaya bagi manusia, karena dapat menyebabkan gangguan
pada syaraf, cacat pada bayi, kerusakan sel-sel hati atau ginjal. Baterai bekas
(untuk senter, kamera, sepatu menyala, jam tangan) mengandung merkuri atau
cadmium, jangan di buang disembarang tempat karena B3 didalamnya dapat meresap
ke sumur penduduk.
Dampak Sosial Terhadap masyarakat
- Kerukunan
Permasalahan sampah dapat berkaitan dengan
nilai kerukunan, atau sebaliknya justru dapat menambah kerukunan. Orang yang
sering membuang sampah di sekitar tempat tinggalnya dan mencemari ligkungan
dapat menimbulkan ketidaksenangan tetangganya. Hal yang demikian ini dapat
menimbulkan keretakan hubungan antara tetangga. Kondisi yang demikian perlu di
ubah agar terjadi hal yang sebaliknya, yakni dapat semakin meningkatkan
kerukunan. Misalnya pada awalnya tetangga yang merasa dirugikan melaporkan
kepada RT atau yang berwenang. Selanjutnya ketua RT pejabat memanggil warganya
untuk bermusyawarah dan mengadakan penyuluhan kebersihan. Akhirnya perlu
diadakan gotong royong melakukan pembersihan lingkungan agar setia warga merasa
bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungannya.
-Kesanggupan
Setiap warga hendaknya memiliki
kesanggupan untuk menempatkan sampah pada tempatnya, memisahkan sampah yang
terurai dan yang tidak teruai, menjaga kebersihan lingkungannya, dan tidak
membuang sampah yang tergolong bahan beracun dan berbahaya (B3) ke sembaranga
tempat. Pekerjaan tersebut bukanlah pekerjaan yang sulit dilakukan, juga bukan
merupakan pekerjaan yang mustahil untuk dilakukan. Maka yang dipentingkan
adalah kesadaran dan kesanggupan.
Dampak Sampah Terhadap Keadaan Sosek
Ekonomi
-
Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk
lingkungan yang kurang menyenangkan bagi masyarakat ; bau yang tidak sedap dan pemandangan
yang buuk karena sampah bertebaran dimana-mana.
-
Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
“Kegiatan
atau aktivitas pembuangan sampah merupakan kegiatan yang tanpa akhir. Oleh
karena itu diperlukan system pengelolaan sampah yang baik. Sementara itu,
penanganan sampah perkotaan mengalami kesulitan dalam hal pengumpulan sampah
dan upaya mendapatkan tempat atau lahan yang benar-benar aman” (Soeryani et al,
1997). Maka “pengelolaan sampah dapat dilakukan secara preventive,
yaitu memanfaatkan sampah salah satunya seperti usaha pengomposan” (Damanhuri,
1988).
Kompos
adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan - bahan hijauan dan bahan
organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan,
misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu, bisa ditambahkan pupuk
buatan pabrik, seperti urea[5]
Berbeda
dengan proses pengolahan sampah yang lainnya, maka pada proses pembuatan kompos
baik bahan baku, tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh
siapapun dan dimanapun. Kompos dapat digunakan untuk tanaman hias, tanaman
sayuran, tanaman buah-buahan maupun tanaman padi disawah.Adapun cara
penanggulangan yang lainnya yaitu: (Demanhuri,1988.hlm45)
a. Penumpukan.
-
Dengan
metode ini, sebenarnya sampah tidak dimusnahkan secara langsung, namun
dibiarkan membusuk menjadi bahan organik. Metode penumpukan bersifat murah,
sederhana, tetapi menimbulkan resiko karena berjnagkitnya penyakit menular,
menyebabkan pencemaran, terutama bau, kotoran dan sumber penyakit dana
badan-badan air.
c. Pembakaran.
-
Metode ini
dapat dilakuakn hanya untuk sampah yang dapat dibakar habis. Harus diusahakan
jauh dari pemukiman untuk menhindari pencemarn asap, bau dan kebakaran.
d. "Sanitary Landfill".
-
Metode ini
hampir sama dengan pemupukan, tetapi cekungan yang telah penuh terisi sampah
ditutupi tanah, namun cara ini memerlukan areal khusus yang sangat luas.
Daur ulang
-
Daur ulang
adalah salah satu strategi pengelolaan sampah padat yang terdiri atas kegiatan
pemilahan, pengumpulan , pemrosesan, pendistribusian dan pembuatan
produk/material bekas pakai.
Material yang dapat didaur ulang :
1. Botol Bekas wadah kecap, saos,
sirup, creamer dll baik yang putih bening maupun yang berwarna terutama gelas
atau kaca yang tebal. Kertas, terutama kertas bekas di kantor, koran, majalah,
kardus kecualai kertas yang berlapis minyak.
2. Aluminium bekas wadah minuman
ringan, bekas kemasan kue dll.
8.
Daftar
Pustaka
Diakses pada tanhggal 3 : http://blhkotabengkulu.web.id/index.php?option=com_content&view=article&id=183:dmp&catid=34:berita-umum
Azwar,
Asrul. (1990). Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan . Jakarta: Mutiara
Sumber Widya.
Damanhuri,
E. (1988). Optimasi Lahan Sanitary Landfill , Suatu Konsep. Jurnal
Tehnik Penyehatan Edisi Mei .
Depkes,
RI. (1987). Pedoman Bidang Studi Pembuangan Sampah , Akademi
Penilik Kesehatan Teknologi Sanitasi
Chandra, Budiman. 2005. Pengantar kesehatan lingkungan,Buku
kedokteran EGC.Jakarta
Sastrosupeno, M Suprihadi.1984. MANUSIA, ALAM dan LINGKUNGAN. Jakarta:
Depdikbud.
Widyatmoko, Sintorini. 2002.”Menghindari, Mengolah, dan Menyingkirkan sampah”. Jakarta : Abdi Tandur.
Wied,
Hary Apriaji. (2004). Memproses Sampah. Penebar Swadaya: Jakarta
-
[1], Thomas
Outerbridge (ed). (1991). Limbah Padat di Indonesia : Masalah atau Sumber
Daya. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.hlm.22
[2] M. Ahmad Suryani R.
(1997). Lingkungan Sumber Daya Alam dan Kependudukan Dalam Pembanguna
n. Jakata : Universitas Indonesia Press hlm. 93
[3] Damanhuri,
. (1988). Optimasi Lahan Sanitary Landfill , Suatu Konsep. Jurnal
Tehnik Penyehatan Edisi Mei .hlm 12
[4] Dr.Budiman Chandra,Pengantar
kesehatan lingkungan,Buku kedokteran EGC,Jakarta,2005 Hlm.124-125;Ekskreta manusia merupakan sumber
infeksi dan juga merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran
lingkungan. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut agar
tidak menjadi ancaman bagi kesehatan lingkungan.
Komentar
Posting Komentar